(JAKARTA/KJB) Tak hentinya
Trisakti menggelar sebuah acara di penghujung tahun ini, FE Usakti mencoba
menggelar acara yang mempertemukan wakil mahasiswa se-Indonesia. Semua progam
studi FE Usakti dipertarungkan dalam agenda ini. Adapun serangkaian acaranya,
kompetisi Statistik Ekonomi, kompetisi Akuntansi, kompetisi Manajemen, Pameran
Pendidikan, dan Seminar Nasional
![]() |
Kiri ke kanan: Moderator Juniati Gunawan, PhD, Maria
R. Nindita Radyati, Ph.D, Ir. Sarwono Kusumaatmadja,
Wahyuningsih, SE, ME. (sumber: istimewa)
|
Dalam kesempatan ini, tim KJB mencoba untuk mengikuti
Seminar Nasional yang diselenggarakan pada hari Kamis, 8 Agustus 2011 bertempat
di Gedung S lt. 8 Kampus A Trisakti. Seminar yang memiliki kuota terbatas ini
turut mengundang Ir. Sarwono Kusumaatmadja, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan
Ibu Maria R. Nindita Radyati, Ph.D seorang praktisi pendidikan dan pendiri
MM-CSR Usakti. Seminar ini dihadiri oleh Ketua Penyelenggara TEBFC Usakti Wahyuningsih, Wakil
Dekan FE Usakti Etty M Nasser, dan para mahasiswa dari 19 kampus.
Adapun
materi yang diusung tentang CSR (Corporate Social Responsibility) atau Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan. Perbincangan ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama
tentang Ekonomi Hijau, Sebuah Konsep Bisnis Berkelanjutan Di Masa Depan yang
disampaikan oleh Bapak Menteri Lingkungan Hidup yang menjabat di tahun
1993-1998. Lalu disusul oleh Maria R. Nindita Radyati, Social Enterprise
in Indonesia.
![]() |
Suasana
Seminar Nasional TEBFC 2011 (sumber: istimewa )
|
Seminar ini membahas betapa pentingnya membuat suatu
keberlanjutan. Pola pikir manusia yang harus diubah untuk tetap bisa berteman
dengan lingkungan. “Berpikir holistik harus dibiasakan, selain itu generasi
kali ini harus bisa memberikan problem solving, dan harus rajin
bertanya”, ucap Ir. Sarwono Kusumaatmadja yang juga menjabat sebagai mantan
Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia di tahun 1998-2001. Dengan semangat
yang membara, Ibu Maria menyampaikan betapa dibutuhkannya Social Enterprises
di Indonesia untuk di masa yang akan mendatang. Semua ini disampaikan untuk
memberikan wawasan bahwa pola pikir harus diubah sejak dini untuk menciptakan
suatu keberlanjutan. “Apa yang kita rasakan pada saat ini, harus bisa dinikmati
juga oleh generasi yang akan datang”, ucapnya. (iji/KJB)


0 comments:
Poskan Komentar