Potensi Emas dari Timur
![]() |
Silverius Oscar dalam pengargaan “The Winner of Conde Nast Traveller” Environmental Award tahun 2008” |
Jakarta/KJB) Silverius Oscar Unggul atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Onte (orang NTT) atau Bang Onte merupakan salah satu mahasiswa MM-CSR angkatan II. MM-CSR adalah singkatan dari Magister Management Corporate Social Responsibility yang merupakan salah satu program tanggung jawab sosial Universitas Trisakti dengan menyediakan pendidikan bermutu tinggi dengan biaya yang terjangkau. Pak Onte menjabat sebagai Wakil Ketua Perkumpulan Telapak bersama rekannya yang terletak di daerah Kendari, Sulawesi. Pak Ote sudah banyak menerima penghargaan seperti “Young Global Leader” dari World Economic Forum tahun 2009, “Social Enterpreneur of the year” tahun 2009 dari Ernst &Young dan Schwab Foundation, “The Winner of Conde Nast Traveller” Environmental Award tahun 2008, dan masih banyak lagi. Pak Onte berfikir kalau masyarakat di daerah Kendari khususnya perlu mempunyai sebuah media untuk dapat saling membantu antar sesama. Oleh karena itu, pada tahun 2000 didirikan sebuah radio yang bernama “Swara Alam” di Kendari. Radio ini masih terbilang tradisional, mulai dari alat – alatnya sampai antenanya yang ditaruh di atas pohon mangga. Pak Onte berasumsi kalau antenna di taruh di atas pohon mangga. Maka lama kelamaan pohon itu akan tumbuh dan antenanya pun semakin tinggi sehingga jangkauan radio tersebut akan semakin luas. Pak Onte berfikir kalau perlu adanya demokratisasi di bidang pers yaitu dengan adanya diversifikasi of ownership dan diversifikasi of content ( Undang – Undang Pers dan Undang – Undang Penyiaran). Menurut Pak Onte, esensi media adalah masyarakat turut berpartisipasi aktif sehingga semakin dekat dengan masyarakat. Pada tahun 2003, didirikan Kendari TV yang kantornya masih dalam satu rumah dengan Radio Swara Alam dan terbentuklah sebuah media group dengan nama Swara Alam Media Group. Menurut Pak Onte, yang mahal dari sebuah televisi adalah programnya. Agar program televisi murah, maka dibuatlah program yang berbasis masyarakat yaitu sebuah program yang di dalamnya masyarakat berperan sebagai dirinya sendiri. Contoh salah satu program dari Kendari TV adalah acara masak memasak dari rumah ke rumah. Semua peralatan masak dan bahan disediakan oleh pemilik rumah yang dikunjungi oleh Kendari TV tersebut.
Sumber dana untuk membiayai media tersebut adalah dari TV box Kendari TV yaitu sebuah box dimana didalamnya masyarakat bisa mengirim pesan kepada siapapun yang mereka inginkan dengan membayar sekitar Rp 20.000. Selain itu, sumber dana lain adalah dari jual beli barang bekas, kalau barang bekas tersebut laku maka akan mendapatkan fee dan fee tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai sumber dana. Seiring berjalannya waktu, maka Kendari TV berkembang dan sampai saat ini sudah tersebar 6 stasiun TV lokal di berbagai kota di Indonesia, seperti Sorong, Palu, Buton, Pontianak, Bengkulu dan Kendari itu sendiri. Terdapat pula program lainnya yaitu bank darah. Kendari punya database tentang golongan darah masyarakat bagi yang mau mendonorkan darahnya. Kalau ada yang membutuhkan darah maka dapat langsung ke media tersebut dan nantinya akan dicarikan golongan darah yang sesuai. Selain itu, di Kendari TV ada program yang mengumumkan siapa saja yang meninggal, sedang sakit, dan yang lahir. Sehingga masyarakat menjadi subjek bukan objek berita dan tidak mengandung SARA. Sebagai social entrepreneur, Pak Onte juga memecahkan masalah ekonomi di daerah Kendari. Pak Onte bersama rekannya mendirikan koperasi yaitu Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL). Untuk melindungi Illegal logging yaitu dengan cara memberi nomor pada setiap pohon dan untuk mengatasi pengambilan ikan secara tidak manusiawi dilakukan pengambilan ikan dengan cara manusiawi dan menanam tanaman bawah laut untuk melestarikan tanaman laut yang juga diberi nomor pada setiap tanamannya. Menurut Pak Onte, kunci utama perubahan menuju inovasi sosial yaitu mimpi, konsistensi dimana konsistensi menggambarkan seberapa kuat mimpimu, dan keteladanan. (tries/kjb)

0 comments:
Poskan Komentar